Sunday, March 16, 2014

For Channel Sake!!


For Channel Sake!!



Berkali-kali Dara melirik ke arah profile picture BBM seorang laki-laki yang memiliki Display Name Boris Triyadi. Pria yang baru dikenalnya 1 jam lalu. Boris Triyadi, lelaki paruh baya berwajah sangar lantaran lekuk wajah tegas dengan jenggot, jambang dan kumis kasar yang menjalar saling berhubungan, ditambah  hiasan tahi lalat di sekitar hidungnya dan tompel di bawah telinga kirinya. Wajah itu membuat Dara mual dan ingin memuntahkan cheese burger yang baru saja dilahapnya. Namun, sunggingan bibir tak terelakan dari bibirnya yang berwarna merah jambu tatkala Dara melihat sebuah outlet Channel yang ada di hadapannya. Di sudut kiri pintu masuk toko tersebut terpampang sebuah tas merah jambu dengan keterangan “Discount 70%”.

Sebenarnya, 1 jam lalu, Dara hanya berniat makan siang di sebuah mall besar dan mewah di daerah Tomang yang memiliki hotel berbintang di atasnya. Pilihannya, selalu restoran burger yang berseberangan dengan outlet Channel. Dara memang Junkfood lover, makanya dia sering ke tempat tersebut. Tapi, ada alasan yang lebih dimuliakannya selain karena makanan sampah tersebut. Yakni, produk-produdk Channel dambaan di outlet yang berdiri mewah tersebut. Ya, Channel dambaan. Tepat ketika Dara menggigit burger yang dipegangnya, tulisan “Discount 70%” itu diletakan oleh petugas outlet. Mata Dara membelalak perlahan bak komang yang ingin keluar dari cangkangnya. Tubuhnya terkunci kuat, tak dihiraukannya lagi burger yang sudah berada 5 cm di depan giginya dan pelayan restoran yang berkali-kali memanggilnya “mbak..mbak..” untuk memberitahu bahwa burgernya telah jatuh di lantai. Sebuah tepukan di pundaknyalah yang bisa menyadarkan dan membuka gembok pengunci tubuhnya. Dara harus memesan burger yang baru sambil terus mencari cara bagaimana supaya dia bisa mendapatkan tas Channel discount-an tersebut dengan cepat agar tidak didahului orang lain.

Dara memang pecinta tergila untuk produk-produk Channel. Lantaran melihat discount itulah, kini Dara berhadapan dengan Pak Boris Triyadi. Kontak BBM Pak Boris didapatnya dari kawan yang sudah mengenalnya sejak lama. Dara harus menemuinya 15 menit lagi, sesuai janjinya di BBM sejam lalu. Sebenarnya, tidak rela ia bertemu dengan Pak Boris. Berkali-kali ia memandang foto Pak Boris, berkali-kali pula ia ingin muntah. Membayangkan 15 menit yang akan datang membuatnya tak mampu berdiri. Tapi ironis, melihat tas Channel discount-an 70% justru membuatnya ingin segera berdiri. Akhirnya, kekuatan pikiran yang membuatnya ingin segera berdiri tersebut dialiri ke saraf tangan dan kakinya hingga jari-jarinya berhasil digerakkan dan kakinyapun berhasil terangkat. Dara meninggalkan restoran burger.

Sambil berjalan, Dara terus menengok ke arah tas Channel merah jambu discount-an 70 %. Di kepalanya hanya ada Pak Boris dan tas Channel. Ketika matanya melihat jalur berjalannya, dia memikirkan Pak Boris, ketika menengok ke outlet Channel dan berdoa supaya tidak keburu dibeli orang, dia memikirkan tas Channel merah jambudiscount-an 70 %. Begitupun seterusnya, Pak Boris - Tas Channel merah jambu - Pak Boris - Tas Channel merah jambu - Pak Boris - Tas Channel merah jambu – Lift.

Dara menekan tombol 19. Sambil menunggu lift terbuka, dia terus membayangi Pak Boris dengan wajah penuh kernyit dan terus ingin mual. Tapi kemudian dia sadar yang ditandai dengan sunggingan bibir, bahwa hanya Pak Borislah yang bisa membuatnya mendapatkan Tas Channel merah jambu discount-an 70% dengan cepat. Tanpa perlu menunggu tabungannya terisi selama setahun sesuai harga tas Channel tersebut. Tanpa perlu mengikuti kontes modelling yang prosesnya bulanan dan belum tentu menang. Tanpa perlu korupsi yang memang bisa membuatnya memiliki tas Channel merah jambu namun dipakainya dalam jeruji besi. Lift terbuka, Dara berjalan di koridor hotel berbintang tersebut untuk mencari kamar nomor 07. Dara kembali menyunggingkan bibirnya saat membandingkan ketiga cara tadi dengan cara yang sebentar lagi akan dilakukannya. Dia hanya perlu berjongkok di hadapan selangkangan Pak Boris dan mengangkang selama sejam. Tambah tengkurap dan kemungkinan menungging,
“Cuma perlu gitu kok, apa susahnya?”,
retoris tersebut berusaha disematkan dalam otaknya agar dia bisa melawan segala mual dan kernyitan di wajah. Itu semua, demi tas Channel merah jambu discount-an 70%.

Dara sudah berada tepat di hadapan kamar 07, dia mengetuk. Baru saja ia ingin mengetuk untuk kedua kalinya, pintupun terbuka. Dara menunduk dan gugup bukan kepalang. Dara mengumpulkan keberanian untuk melihat sosok laki-laki di hadapannya itu. Dara telusuri dari mulai kakinya yang kokoh dipenuhi bulu, lututnya terlihat lebih hitam dari kakinya, handuk putih menggantung dari lutut hingga ke 5 cm di bawah bodong pusarnya. Bulu-bulu halus menjalar dari bawah pusarnya hingga ke perutnya yang membuncit, ke dadanya yang dihiasi 2 pentil berwarna hitam. Lehernya terbentuk gundukan jakun besar yang berkali-kali naik dan turun mengikuti irama air liur yang ditelan lantaran nafsu. Bulu-bulu kasar mulai terlihat di dagunya dan sekitar pipinya. Dara sudah semakin menegakkan wajahnya ketika sepasang mata Dara berhadapan persis dengan sepasang mata laki-laki di hadapannya.
“Papah!”
“Dara!”

Pertemuan Dara dan Papanya untuk pertamakali sejak 10 tahun lalu berpisah.

-fin-

Friday, January 10, 2014

Berziarah, Holiday Jasmaniah

Berziarah, Holiday Jasmaniah




Bapak adalah sosok penjaga dan pelindung yang Tuhan kirimkan untuk saya dan kalian. Bapak adalah guru terbaik bagi saya dan kalian ketika jam sekolah usai. Bapak jugalah sosok yang paling terpukul ketika saya dan kalian salah bergaul. Lalu, bagaimana jika sosok itu telah tiada ?

Sedikit cerita,  Bapak saya meninggal dunia pada Oktober 2006 karena kecelakaan di Medan - Sumatera Utara, sedangkan kami tinggal di Bekasi. Ketika itu kondisi keuangan keluarga tengah sulit sehingga begitu banyak hambatan yang membuat saya dan kedua adik saya tidak bisa ikut “terbang” ke sana. Hanya mama dan ketiga kakak saya yang berangkat. Mungkin sangat sulit diterima akal sehat kalian ketika mendengar saya dan kedua adik saya belum juga melihat makam Bapak hingga 7 tahun 2 bulan kemudian (saat ini).

Rasanya, tidak berlebihan jika Perjalanan Ziarah ke Makam Bapak menjadi Perjalanan Spiritual yang luar biasa bagi kami bertiga untuk melepas dahaga rindu padanya sekaligus liburan di Sumatera Utara, kampung halaman kami. Jika Tuhan mengijinkan, ingin sekali saya dan kedua adik saya mendapatkan kesempatan tersebut.

Membersihkan makam Bapak dan mengunjungi rumah sanak saudara sambil kembali merasakan berbagai ritual adat keluarga besar di Sidikalang (kampung halaman), kemudian dilanjutkan dengan rekreasi pemulihan diri dengan menghirup udara segar pulau samosir dan menaiki sampan di danau toba, hingga menjelajahi objek wisata di Tapanuli Tengah, seperti memanjakan mata dengan melihat konservasi terumbu karang di perairan Pulau Mursala serta menyaksikan keindahan Tapanuli Tengah dari Bukit Anugerah.


Sekali lagi, jika Tuhan mengijinkan, rencana liburan sekaligus Ziarah tersebut akan menjadi Best Holiday Plant ever untuk saya, kedua adik saya, demi Bapak.

Thursday, January 2, 2014

Resolusi Baru, Harapan Baru

Jumat, 3 Januari 2014

Mungkin agak telat untuk memposting tentang resolusi baru di tahun baru 2014 ini. Tapi, kesalahan terbesar adalah ketika kita tidak sama sekali melakukannya. Jadi, mending dikerjakan walau terlambat daripada tidak sama sekali.
Di sini saya akan menjabarkan beberapa resolusi 2014 yang pasti tidak penting bagi kalian. Tapi pasti penting bagi saya. Cerita ini hanya fakta semata, tidak ada fiktif belaka. Jika ada kesamaan persepsi atau kondisi dan resolusi, berarti kita memiliki kesamaan tujuan hidup. (Gak juga lah venn…. -_-)
Oke. Here they are :

 1.     Posting blog minimal 2 hari 1 postingan.
Malas menulis adalah penyakit yang terparah bagi seorang Copywriter. Itu mengapa, saya jadikan ini sebagai resolusi penting tahun ini. Saya akan memulainya di bulan Januari ini. Dan ini menjadi postingan pertama saya untuk resolusi ini. Oiya, kenapa bukan 1 hari 1 postingan ? hmm… saya gak mau over promise dan berlebihan. Saya tahu saya malas menulis. Sudah pasti gagal kalo saya ber-resolusi demikian.

2.    Membaca buku minimal 2 buku sebulan.
Hmmm… Baca buku juga merupakan penyakit parah yang di-idap seorang Copywriter. Pandai berkomunikasi dan mengkritisi (dalam arti positif) argumentasi akan didapat jika banyak membaca buku (sebenernya baca buku elektronik juga bisa sih.. Tapi, to be a real reader, you must have a real book. Sama supaya mata gak cepat rusak juga sih..)

3.    Lolos Finalist Daun Muda Award 2104.
Saya rasa ini resolusi tersulit yang saya buat. Tapi dengan begitu,usaha yang akan saya fokuskan padanya akan lebih besar (asek..)

4.    Jadi Running Man
Maksudnya, bisa Running/Jogging sih.. hehe. Minimal seminggu 3 kali. Kalo bisa sih… Running to Work (Jogging to work), it would be better and cool. Mudah-mudahan yang ini bisa terlaksana dengan baik DAN LANCAR.

ehhh... ada bos dateng.
That’s all…. God bless me and you

Thanks :D

Sunday, December 8, 2013

Profesi Baru Ini Bernama Agen Misi Kebudayaan



Menjadi bagian dari kelompok Paduan Suara Mahasiswa (PSM) adalah berkah sekaligus sentilan emas yang pernah saya dapatkan. Berkah, karena saya dapat menyalurkan hobi menyanyi, dan ‘sentilan’ karena begitu banyak kebudayaan Indonesia yang baru saya kenali setelah menjejaki kegiatan PSM baik Nasional maupun Internasional. Hampir empat tahun meniti “profesi” sebagai penyanyi paduan suara telah menempatkan saya menjadi seorang yang tidak lagi apatis, tidak lagi kecewa, tidak lagi diam terhadap negeri ini.
Tak dapat dipungkiri, dunia paduan suara Indonesia mendapatkan posisi tinggi pada setiap kompetisi internasional, namun seringkali mereka sulit mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar seperti orang tua, dosen, teman-teman, bahkan pemerintah. Bangsa-bangsa di luar sana saja mengagumi ke-elok-an kebudayaan kita, mengapa kita tidak ? Perlu adanya kesadaran holistik dalam mendukung paduan suara kita, khususnya dalam membawakan lagu-lagu folklore, setiap kalangan harus bersatu padu menyukseskan setiap pertunjukan seni dan kebudayan, baik sebagai pelaku, penyelenggara, pemberi donatur, ataupun penonton demi identitas bangsa kita.

Tak Melulu “Kaku”
Jika semasa Sekolah Dasar kelompok aubade diwajibkan melipat jemari kedua tangan dengan jemari kiri berada di bawah dan diletakan di pinggang sebelah kanan, maka semasa kuliah akan sama sekali berbeda. Choirs are beyond my experience. Setelah saya melihat promosi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Mercu Buana saat masa Dunia Kampus dulu, saya terkejut dimana kelompok paduan suara tersebut menyanyikan lagu-lagu daerah dengan aransemen menarik dan tarian yang tak gampang. Sangat menarik sekaligus menyentil saya yang baru mengetahui kalau lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu daerah setelah sang pemandu acara menyebutkannya. Ada Don Dap-Dape dari Bali, Luk-Luk Lumbu dari Banyuwangi, Marencong dari Bugis dan Tak Tong-Tong dari Minang. Penampilan mereka benar-benar di luar ekspektasi saya kala itu, hal itupun sontak menggugah sanubari saya untuk bisa menjadi bagian dari mereka dan turut serta melestarikan berbagai kebudayaan luhur yang menghiasi wajah pertiwi ini. Setelah serangkaian audisi dan resmi menjadi anggota paduan suara, pikiran saya terbuka bahwa ternyata masih banyak kalangan di Indonesia yang peduli akan peninggalan luhur, identitas bangsa, yang kita sebut kebudayaan. Pada setiap penampilan, kami diwajibkan menghapal lagu-lagu daerah dengan aransemen kontemporer dan gerakan-gerakan tari yang mendukung tiap syair di dalamnya. Sebuah pengalaman mengejutkan karena saya terbilang kaku dalam menari. Tapi tak pernah menyurutkan semangat saya untuk terus berlatih dan komitmen akan salah satu cara pelestarian budaya di tengah-tengah pemuda ini. Pernah suatu kali kami menampilkan lagu Tak Tong-Tong aransemen Ega O. Azarya dengan tarian yang mengharuskan kami menekuk lutut hingga hampir menyentuh lantai dengan tangan di atas kepala (seperti gerakan bela diri Minangkabau), kemudian diberikan sentuhan atraksi oleh koreografer yang juga mengharuskan salah seorang teman kami diangkat tinggi. Aransemen lagu yang menantang ditambah koreografi apik, membuat penonton tak segan berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah terhadap kami. Apresiasi itulah yang membuat kami tak henti merekahkan senyuman hingga meneteskan air mata. Dan yang pasti, enggan menghentikan “profesi” ini, Agen Misi Kebudayaan.

Ternyata, Tak Melulu Mulus
“Seleksi alam” anggota seringkali terjadi pada sebuah organisasi atau kelompok. Tapi, siapa sangka jika seleksi alam yang terjadi di paduan suara kampus kami justru karena jenis kegiatan yang dilakukan setiap hari oleh orang di dalamnya, yakni menari dan menyanyi, yang berimplikasi pada timbulnya stigma negatif bahwa anak laki-laki paduan suara cenderung ke-wanita-wanita-an atau bahasa kasarnya “banci” atau lemah. Karena hal itulah, anggota paduan suara angkatan 2010 yang awalnya berjumlah 33 orang, berkurang menjadi 23 orang hanya dalam kurun waktu 3 bulan. Mereka tidak ingat dengan jenis kebudayaan apa yang di-klaim oleh negara Malaysia, sebagian besarnya adalah lagu-lagu daerah dan tari-tarian. Lagu rasa sayange, soleram, injit-injit semut, kakak tua, anak kambing saya, hingga jali jali, sedangkan tari-tarian seperti tari pendet, tari piring, hingga tor-tor [1]
Masalah lain juga ikut menggerogoti perjalanan kami, yakni kesenjangan antara waktu latihan dan ijin orangtua serta dosen. Tidak sedikit orang tua kami yang mengatakan “kamu mama kuliahin untuk belajar, bukan latihan paduan suara terus” yang berujung pada tidak diperbolehkannya anak-anak mereka untuk latihan. Tak ayal, dosen kamipun mengatakan hal senada ketika kami memberikan surat ijin untuk mengikuti kegiatan paduan suara, “kampus tempat kalian kuliah, bukan ber-paduan suara”. Bapak Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa kebudayaan berarti buah budi manusia, adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai. Maka mereka (orangtua dan dosen) yang mengatakan demikian sama sekali tidak menghargai zaman dan alam, berarti tidak menghargai perjuangan manusia. Saya yang kala itu menjabat sebagai ketua hanya bisa memotivasi anggota untuk kembali menghayati apa yang selama ini kita lakukan dan untuk siapa pengorbanan ini kita persembahkan. Ya, Indonesia. Mungkin, masalah-masalah tersebut pula yang bersemayam di banyak kelompok paduan suara di dunia, maka itulah saya menulis esai ini.

Tak Melulu Kalah
Saya yakin, tahun 2011 lalu sebagian dari kita geram melihat kekalahan telak Tim Nasional U-19 ketika melawan Vietnam, yakni dengan skor 1-6, padahal Negara Vietnam merdeka jauh setelah Indonesia merdeka. Saya yakin pula, hampir semua masyarakat Indonesia teriris melihat kekalahan telak Timnas dalam menghadapi Club sepak bola dunia seperti Arsenal (7-0), Liverpool (2-0),dan Chelsea (8-1). Parahnya, pemuda-pemudi kita semakin geram ketika masyarakat Malaysia mengejek Indonesia dengan “sadis” di youtube dan blog, jelas karena Malaysia hanya kalah 1-2 dengan Arsenal. Saya tidak bermaksud membandingkan prestasi tersebut dengan prestasi paduan suara di Indonesia. Saya hanya memberikan gambaran bahwa ada sekelompok orang yang berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan sangat “menyengat” di ranah dunia dan ini wajib dibanggakan. Paduan suara Mercu Buana, Undip dan Unhas berhasil meraih Platinum untuk kategori Folklore pada Xinghai Prize International Choir Championship di Guangzhou - Cina, Paduan Suara Unpad dinobatkan sebagai juara Grand Prix pada 48th Montreux Choral Festival di Montreux – Swiss, Batavia Madrigal Singers yang menjadi pemenang pada International May Choir Competition Prof. Georgi Dimitrov di Varna – Bulgaria, yang merupakan bagian dari European Grand Prix (kompetisi paduan suara tersulit di dunia), prestasi yang saya sebutkan adalah di tahun 2012. Dan sejak dahulu, hampir tidak ada paduan suara Indonesia yang berkompetisi di luar negeri namun tidak menyumbangkan medali untuk Indonesia. Pakaian tradisional yang kami kenakan ketika berkompetisi Internasional pun menjadi incaran kamera para penonton. Pernah ketika saya bersama paduan suara Mercu Buana di Cina dengan mengenakan pakaian tradisional Bali, peserta dari negara lain memperhatikan kami dengan penasarannya dan pada akhirnya mengajak kami berfoto bersama. Mereka bilang “Your dress is beautiful and unique”, sontak perkataan mereka menghilangkan semua penat dan masalah yang pernah timbul di kala proses latihan kami. Tidak ada rasa malu ketika mengenakan pakaian tradisional di sana, yang ada hanya kebanggaan bahwa karya leluhur yang kami tampilkan di sana (luar negeri) membawa nama harum bangsa. Yang kami takutkan justru rasa malu yang timbul kala kebudayaan tersebut ditampilkan di negeri sendiri. Kenapa ? karena seringkali pertunjukan paduan suara di Indonesia mendapatkan apresiasi kerdil dari penontonnya, sudah jadi rahasia umum bahwa banyak warga kita, khususnya pemuda yang kurang mencintai seni dan kebudayaan Indonesia. Mereka lebih memilih menyaksikan konser Super Junior dengan tiket termurah Rp. 550.000 dibandingkan konser yang berisi lagu-lagu dan tarian daerah namun dengan tiket Rp. 50.000. Mungkin minimnya apresiasi tersebut karena sifat orang tua dan dosen-dosen kami yang memadang sebelah mata kegiatan seni dan kebudayaan ini.

Karena Profesi Kami, Agen Misi Kebudayaan
Jika melihat track record paduan suara di Indonesia, maka seyogyanya pemerintah memberikan perhatian penuh juga kepadanya, tidak melulu mengalokasikan dana besar untuk sepak bola nasional yang memungkinkan timbulnya benih korupsi. Karena selama ini saya merasakan bahwa pemerintah tidak sepenuh hati memberikan perhatian terhadap seni dan kebudayaan, mereka memberikan bantuan dana melalui Kemendikbud tidak hampir 50% dari total dana minimum kami selama di luar negeri, sisanya ? usaha sendiri. Selain itu, ketidakhadiran mereka dalam acara seni dan kebudayaan tersebut cukup melukai kami secara mental, seperti memberi sogokan beberapa rupiah pada anak kecil untuk mau ditinggal di rumah sendirian. Padahal dukungan itu harus diberikan secara komplit, tidak hanya materi tapi juga mental. Pemuda Indonesia jangan menganggap remeh mereka yang berlatih lagu dan tarian daerah, realitanya adalah mereka lebih berprestasi dibandingkan yang hanya kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Mahasiswa juga tidak hanya memiliki olah pikir dan olah raga saja, tetapi juga olah rasa yang bisa kita implementasikan kepada karya-karya leluhur. Pemuda wajib mencintai kebudayaan di saat yang tepat, yakni setiap hari, tidak hanya di saat kebudayaan kita diklaim oleh negara lain saja. Jika dalam lingkungan Universitas Mercu Buana saja yang berisi 18.695 mahasiswa aktif hanya 55 orang (jumlah anggota aktif paduan suaranya) yang percaya diri dan konsisten melestarikan kebudayaan Indonesia, maka bisa dibayangkan berapa mahasiswa yang berontak bahkan memaki Malaysia ketika pengklaiman terjadi. Jawabannya 18.640 mahasiswa. Mereka berontak karena sadar akan ketidakmampuan menjaga kebudayaan bangsanya, mereka malu dan melampiaskannya kepada pemerintah. Berikan keleluasaan berekspresi dan berprestasi bagi insan seni dan kebudayaan, perbanyak gedung-gedung pertunjukan agar tidak hanya Usmar Ismail, Gedung Kesenian Jakarta dan Teater Tanah Airku saja yang bagus, itupun biaya sewanya sangat mahal, wajibkan setiap instansi pendidikan untuk memiliki kelompok seni dan kebudayaan yang aktif dan jangan lagi pandang negatif, wajibkan pula seluruh pegawai dan petinggi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menghadiri setiap undangan sekolah atau mahasiswa. Rencanakan promosi terpadu untuk setiap kelompok seni yang akan tampil di dalam maupun di luar negeri, kemudian berikan apresiasi tinggi bagi kelompok seni yang mendapatkan prestasi di luar negeri, termasuk dana pendidikan bagi mahasiswa.
Perlu digarisbawahi, kami anggota paduan suara mahasiswa tetap bercita-cita sesuai dengan keinginan awal memasuki program studi di universitas, sebagai Hakim, Ahli Pajak, Reporter, Psikolog, Desainer, Dokter dan lain sebagainya. Namun, tidak kami sesali bahwa profesi kami menjadi ganda setelah menjajaki dunia berpaduan suara yang penuh dengan Tridaya (Cipta, Karya, dan Rasa) terhadap seni dan kebudayaan bangsa, karena profesi kami adalah Agen Misi Kebudayaan.



Daftar Pustaka

http://mercubuana.ac.id diakses pada 17-8-2013 pukul 16.00


Monday, November 11, 2013

BRAND NAME

Saya mau sedikit Narsis.
Narsis dalam menampilkan hasil olahan
Olahan simple dalam kata-kata
untuk sebuah Brand Name.

Deskripsi produknya seperti ini :

Jenis produk : Makanan
Kategori produk : Nugget-nugget'an dan Sosis.
Distribusi : Luar Negeri. Termasuk Amerika dan Eropa.
SES : A & B

Dari informasi singakt itu, saya buatlah nama brand seperti di bawah ini.
Mohon jangan fokus pada LOGO nya. Karena itu hanya PERCOBAAN. Dan
You know, never good in design. LOL

Oiya, tadinya mau saya upload ke Tumblr saya yang berisi Portofolio saya
--> http://thousandseven.tumblr.com/
Tapi, saya kurang puas sama hasil ini, akhirnya saya DELETE ari tumblr porto sya.
Check this out, dan kalo bisa comment ya, untuk pilih mana yang terbaik. Makasih :D







SIMPLE PLEASURE



Dari gambar di atas, saya mau mendeklarasikan bahwa Simple Pleasures are easily found

Hari ini adalah hari ke 2 di Minggu ke tiga saya bekerja di Ahensi Periklanan di bilangan Jakarta Barat. sejujurnya, ketika saya bangun pagi tadi, saya benar-benar lelah, tidak bersemangat, dan badan terasa pegal semua. Sedikit flashback, semalam saya baru pulang kantor jam 23.00, dan baru bisa tidur di kost'an pukul 24.00. Kemudian diperparah dengan adanya janji untuk bertemu dengan dosen jam 7 pagi di kampus. No wonder, saya harus bangun tidur jam 6.00.Akankah Anda merasakan hal yang sama seperti saya jika menjalani hari seperti ini ? Saya kita tidak semuanya bilang "IYA" , karena ada moment dimana kisah ini masih terlalu "CEMEN" untuk ukuran kerja di Ahensi.

Singkat cerita, saya tiba di kampus tepat jam 7, saya telpon dosen namun tidak diangkat. Tak berapa lama, sang dosen mengabari saya melalui BBM, bahwa beliau terjebak macet yang parah dan memungkinkan beliau tiba di kampus pukul 09.00, beliaupun meminta saya untuk berangkat saja ke kantor, dan mengganti hari pertemuan itu dengan hari lain. KESAL ? Jelasss... Tau gitu, mending saya bangun agak lama tadi.
Tetapi, dengan kecewa saya putuskan untuk makan nasi uduk di dekat kampus (FYI : Perjalanan kampus-kantor saya dapat ditempuh dalam waktu 15 menit. hehehe). Di warung nasi uduk inilah, kebahagiaan dalam menjalani hidup saya rasa mudah didapat.

Pertama.
Si penjual nasi uduk yang adalah Ibu Haji sangat ramah menyapa dan melayani saya. Kemudian saya duduk di sebelah ibu-ibu yang juga menyapa dan tersenyum kepada saya dengan ramahnya. Dia pun menawarkan es teh manis, akhirnya saya putuskan untuk juga memesan teh manis. Kala itu saya merasa seperti "smile is do, could heal your sorrow". selesai makan nasi uduk, saya ke Bank BNI untuk membuka rekening baru.

Kedua.
ketika saya masuk Bank BNI, seperti biasa saya disapa oleh security yang berdiri siaga di depan pintu dan menanyakan dengan ramah "Ada yang bisa dibantu ?". Saya ceritakan keluhan saya, dan si security meminta saya untuk menunggu karena Bank masih dalam "preparation" (Kala itu baru jam 08 kurang). Ketika itu, sang security menyapa saya seolah dia sudah kenal dengan saya, dan benar saja... Saya pun merasa sudah tidak asing dengan wajahnya, yang ternyata dia adalah manatan security kampus saya dan sering melihat saya pulang kampus larut malem karena ada latihan Paduan Suara, kami jadi berbincang-bincang banyak dengan suasana tidak membosankan. Si security menyadarkan saya bahwa "Membuat seseorang tertarik bercerita akan membawa kebahagiaan terhadap si pencerita"

Ketiga.
Ketika beranjak dari Bank BNI, saya menunggu angkutan umum di depan kampus. Dan, ada beberapa karyawan kampus yang cukup akrab dengan saya menyapa saya dengan ramah, kamipun bercerita, tentang pekerjaan saya dan kabar kami berdua. Selanjutnya, saya juga bertemu dengan supir bus kampus yang seringkali bekerja sama dengan saya ketika saya masih menjabat sebagai ketua Paduan Suara kampus. Percakapan singkat yang cukup menambah gairah saya dalam menjalani hari ini. Mereka berdua mengingatkan saya bahwa "memuji orang dengan jujur dan tulus dapat menambah gairah hidup seseorang"

Selesai saya mendapatkan angkutan umum, saya pun tiba di kantor pukul 08.55, dan saya masih menjadi pegawai pertama yang tiba di kantor. Ditambah dengan semangat menajalani hari yang lebih besar dari hari sebelumnya. Terimakasih buat dosen saya juga yang sekilas telah merugikan saya, but otherwise, cukup banyak hikmah di sana.


Have a good daya people :)

Monday, August 5, 2013

Renungan Bodoh Tentang IPK (Indeks Prestasi Komulatif)

Saya cuma ingin melampiaskan beberapa QUOTE atau gurindam kali ya, tentang IPK yang saya dapat ketika waktu tidur tidak sejalan dengan fungsinya (Intinya sih... iseng2 gak jelas. Tulisan di bawah ini menggambarkan pengalaman saya ketika melihat teman-teman saya yang stress to dead ketika Indeks Prestasi mereka menurun.



"Mengapa kau rela mengejar IPeKa, sedang Experience tak kau terka.."



"Kau Ngotot dapat IPeKa tinggi, tanpa PeKa pada the other Prestasi.."



"Ketika IPeKa terjun bebass, leher Dosenpun ditebass.."
(yang ini lebay :p)




"Ibarat pohon, IPeKa adalah daun yang nampak nyata, namun mudah berguguran, sedangkan pengalaman adalah akar yang kuat menopang dan mudah menumbuhkan pohonnya.."




IPeKa        : Siapa kamu ??!!!
Mahasiswa1   : Aku pemujamu.... *sujud*
IPeKa        : Siap melakukan apa saja demi Aku ??
Mahasiswa1   : PASTI !!
IPeKa        : Kalau begitu, turunkan IPK mu... 
Mahasiswa1   : *Nangis Kejer Banget*




Saya kira, kalimat-kalimat "aneh" di atas adalah ungkapan rasa iri saya pada teman-teman saya yang mendapatkan IPK tinggi, sedangkan saya tidak. At the beginning, saya sangaaatttt menyeesalll dan iriiiii sekaliii... eventually, saya tersadarkan, bahwa IPK bukan segala-galanya. Masih ada prestasi dan pengalaman yang jadi pertimbangan para interviewer kerja nanti.
Seperti kata BillyBoen "Kuliah bukan soal Ijazah, tapi pendewasaan pola pikir dan karakter.."
HALELUYA !!

Oiya, tak bisa dipungkiri juga kalo ungkapan ini dibuat hanya untuk menyenangkan hati saya yang sudah cukup kecewa sama menurunnya IPK saya. #HuffBanget


Sekian, dan terimakasih.